Kepemimpinan pada Masa Covid-19

Oleh: Tubagus Anis Angkawijaya

Dalam lingkungan masyarakat banyak aturan yang tidak tertulis yang merupakan acuan penting masyarakat pada suatu tempat untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Adapun peraturan tertulis tersebut disebut norma dan adat-istiadat.

Lingkungan masyarakat merupakan lingkungan yang dinamis dan komplek, kekomplekkan lingkungan masyarakat yang demikian membuat manusia yang merupakan bagian dari masyarakat dan juga pelaku dalam lingkungan masyarakat dituntut untuk hidup bersama-sama dan bekerjasama dalam suasana yang tertib dan terbimbing oleh seorang pemimpin.

Tidak dapat dipungkiri bahwa manusia tidak dapat hidup tanpa orang lain. Maka, demi efisiensi kerja dalam upaya mencapai tujuan bersama, dan untuk memepertahankan hidup bersama diperlukan bentuk kerja kooperatif. Semua kegiatan kooperatif diperlukan aturan dan perlu dipimpin.

Suasana kehidupan masyarakat pada saat  sebelum mewabahnya Covid-19  sekitar bulan  Januari dan  Februari 2020,   dirasakan tentram dan damai  semua masyarakat pada umumnya dapat beraktifitas seperti biasa. Namun sejak mewabahnya  Covid-19 yang  diawali dengan ditemukannya 2 orang positif corvid -9 di Kota Depok Jawa Barat, mulai saat itulah pemerintah dan seluruh lapisan masyarakat mulai merasakan ada sesuatu wabah dalam kehidupan  bermasyarakat dan apabila wabah  tersebut diabaikan oleh kita semua,  maka wabah akan merebak ke seluruh masyarakat bahkan akan mengancam kehidupan  berbangsa dan bernegara.

Oleh karena itu, pemerintah langsung bertindak cepat dengan membentuk Gugus Tugas penanganan Covid-19 dan menetapkan bahwa Keadaan Darurat Kesehatan  karena mewabahnya  Covid-19  di Negara RI, (selanjutnya menunjuk Kepala BNPB Letjen TNI Doni Munardo sebagai Kepala Gugus tugas Penanganan Covid-19).

Sudah kurang lebih 3 bulan (90  hari ) gugus tugas bekerja, dan sudah banyak upaya yang dilakukan. Seperti:  PSBB ( Pembatasan Sosial Berskala Besar ), Pebangunan RS Korban Covid-19 di Pulau  Galang dan Wisma Atlit Kemayoran Jakarta Pusat, beberapa rumah sakit yang menjadi rujukan di setiap daerah/provinsi kabupaten dan kota seluruh Indonesia.

Beberapa upaya pemulihan ekonomi masyarakat yang kena Dampak Covid-19 berupa Bansos, BLT, Kartu Pra kerja menambah maraknya upaya pemerintah dalam penanggulangan Covid-19 dengan tema Bersatu melawan Corona dikumandangkan diseluruh wilayah Indonesia, Upaya lainya dalam pencegahan bahaya Covid-19 dengan kampanye “di rumah saja (stay at home)  jaga jarak (physical distancing), pakai masker dan sering cuci tangan pakai sabun atau  sanitizer semakin menambah memasyarakatnya bahaya Covid-19.

Terlepas dari semua upaya itu, tentu pemimpin yang melaksanakan kepemimpinannya  akan sangat dirasakan kiprah dan perhatiannya kepada upaya penanggulangan Covid-19 dan kalau kita telaah maka kepemimpinan yang merupakan cabang dari kelompok ilmu administrasi, khususnya ilmu administrasi negara, sedangkan ilmu administrasi negara adalah salah satu cabang dari ilmu-ilmu sosial, dan merupakan salah satu perkembangan dari filsafat. Dalam kepemimpinan ini terdapat hubungan antar manusia (komunikasi Interpersonal, yaitu hubungan saling mempengaruhi dan hubungan kepatuhan-kepatuhan antara bawahan dan atasan.

Hakikatnya semua itu ciptaan manusia, bisa dikatakan bahwa semua manusia adalah pemimpin. Namun, dalam usaha-usaha pembentukannya diperlukan proses-proses yang harus dilakukan guna membentuk mental dan sifat pemimpin.

Khusus mengenai kepemimpinan pada masa Covid-19 ini harus mengikuti perkembangan ancaman/bahaya Covid-19 pada masyarakat. Tentunya karena Covid-19 munculnya dengan tiba tiba mewabah di Indonesia, sehingga Covid-19 disebut pula Situasi Bencana Luar Biasa, maka kepemimpinan itupun harus disamping harus mempunyai sifat-sifat kepemimpinan pada umumnya, juga harus mempunyai upaya-upaya yang luar biasa, yang tidak sama seperti biasanya. Yaitu kepemimpinan hyang menyesuaikan dengan situasi dan kondisi Covid-19. Seorang pemimpin di manapun levelnya harus mau dan suka tidak suka melakukan upaya luar biasa (extra ordinary) untuk memberhentikan mewabah Covid-19.

Di Indonesia khususnya, banyak potensi yang mulai bermuculan terutama dari generasi muda. Dalam usaha menyiapkan tenaga kepemimpinan yang muda-muda, diperlukan adanya latihan kepemimpinan di dalam konteks kepemimpinan yang berkepribadian Indonesia, berlandaskan Pancasila dan UUD 1945 sebagai panutan.

Agar mampu melaksanakan kewajiban, pemimpin harus dapat menjaga kewibawaan. Dia harus memiliki kelebihan-kelebihan tertentu dibanding dengan kualitas orang-orang tertentu yang dipimpinnya. Kelebihan ini terutama meliputi segi teknis, moral, dan semangat juangnya.  Selanjutnya, di alam kemerdekaan dan pembangunan sekarang, berhasilnya pembangunan nasional sagat bergantung pada ikut sertanya seluruh rakyat Indonesia yang memiliki sikap, mental, tekad, semangat, ketaatan dan kedisplinan nasional dalam menjalankan tugas kewajibannya.

Untuk hal ini perlu dibangkitkan motivasi membangun di kalangan masyarakat luas, dan motivasi pengorbanan pengabdian pada unsur kepemimpinan (lokal, regional maupun nasional). Sebab keteladanan yang utama-atas dasar pengorbanan dan pengabdian pada kepentingan rakyat banyak, maka segenap rakyat kecil akan rela berperan serta dalam usaha pembangunan.

Marilah kita bekaca kembali kepada peristiwa sebelum kemerdekaan, ketika semua rakyat Indonesia masih terjajah munculah semangat kebersamaan senasib dan seperjuangan yang membuat rakyat Indonesia mulai bangkit dan akhirnya mampu meneriakan kemerdekaannya. Dengan demikian, dalam era yang berbeda ini yaitu era globalisasi dengan upaya  pembangunan diperlukan tipe kepemimpinan stimulator dan dinamisator untuk menggairahkan semangat pembangunan di segala bidang kehidupan.

Dalam hal ini,  Dr.Kartini Kartono dalam bukunya (Pemimpin dan Kepemimpinan: 2010, hal 315) menjelaskan bahwa ada beberapa persyaratan yang perlu dipenuhi oleh kepemimpinan pada situasi  ekstra ordinary  (situasi luar biasa)  yaitu:

  1. Kepemimpinan  nasional harus bersumber pada falsafah negara, yaitu Pancasila.
  2. Memahami benar makna dari perencanaan, pelaksanakan, dan tujuan  yang ingin dicapai. Khusunya menyadari makna keberlangsungan  manusia Indonesia seutuhnya dan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan pokok dan riil dari rakyat, serta peningkatan kehidupan bangsa atas asas manfaat, usaha bersama, kekeluargaan, demokrasi, serta prinsip adil dan merata.
  3. Diharapkan agar kepemimpinan Pancasila mampu menggali inti sari dari nilai-nilai tradisional  yang tinggi peninggalan para leluhur dan nenek moyang kita, untuk kemudian dipadukan dengan nilai-nilai positif dari modern dan  gaya kepemimpinan Indonesia.

Kepemimpinan di Indonesia pada masa pendemi Covid-19 harus memperhatikan Indonesia sebagai negara Hukum dan menerapkan sistem pemerintahan demokrasi yang sesuai dengan Pancasila, dalam hal ini pemerintah Indonesia harus benar-benar mampu manjalankan roda pemerintahan dengan sifat-sifat pemimpin yang sesuai dengan hukum yang berlaku dalam sistem pemerintahannya.

Sistem pemerintahan demokrasi merupakan sistem pemerintahan dimana rakyat merupakan pemegang kekuasaan tertinggi dalam negara, pemerintah hanya sebagai pelaksana sistem pemerintahan dimana terpilihnya para tokoh  merupakan hasil dari rakyat melalui pesta demokrasi yang sering disebut Pemilu (Pemilihan Umum), dalam acara 5 tahun sekali rakyat berbondong-bondong untuk memilih  calon pemimpin yaitu calon presiden dan wakil presiden, yang nantinya akan memimpin negara Indonesia. Pemerintah yang notabene adalah berasal dari rakyat nantinya akan menjadi pelayan rakyat, dan berkewajiban untuk bertanggung jawab atas berjalan atau tidaknya roda pemerintahan.

Ketauladanan keutamaaan yang diharapkan dari pemimpin yang melakukan kepemimpinannya dimasa pandemi Covid-19 ini sangat diperlukan satu langkah dan gerak untuk bersama bersatu menanggulangi orang terpapar Covid-19. Pemimpin akan memimpin team work  yang berisi para ahli  dan unsur pendukung lainnya yang sama-sama mempunyai peran penting. Kegagalan akan terjadi seandainya tidak ada katauladanan dan sikap dan gerak bersama secara kolaborasi. 

Untuk memahami hal tersebut marilah kita renungkan pemikiran Dr.Ruslan Abdulgani mengenai moral Pancasila dalam kaitanya dengan kepemimpinan  antara lain sebagai berikut:

  1. Yang dimaksud dengan Pancasila ialah Pancasila yang tercantum pada Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945; Ketuhanan YME, Kemanusiaan Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan /Perwakilan, dan Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.
  2. Nilai-nilai tersebut harus dihayati, yaitu diresapi dan diendapkan dalam hati dan qalbu, sehingga memunculkan sikap dan tingkah laku yang utama/terpuji dalam kehidupan sehari-hari. Untuk kemudian diterapkan/diamalkan dengan kesungguhan hati dalam kehidupan bermasyarakat.
  3. Pancasila dan UUD 1945 menjamin kemerdekaan setiap penduduk untuk memeluk agama masing-masing dan beribat meurut agama dan kepercayaannya. Kebebasn beragama adalah salah satu hak paling asasi di antara hak-hak asasi manusia, karena kebebasan itu langsung bersumber pada martabat manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Kebebasan beragam itu bukan pemberian negara, dan bukan pemberian golongan, akan tetapi merupakan anugerah Ilahi. (*DR)

*Irjen Pol Purn Dr. H. Tubagus Anis Angkawijaya. Penulis adalah Kapolda Jawa Barat Periode 2012-2013, Dosen D-III Kepolisian FISIP Unla

One thought on “Kepemimpinan pada Masa Covid-19

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *